Thursday, May 29, 2008

Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah

Edisi Jum’at : 9 Maret 2008


MAJELIS TAKLIM

WADDA'WAH

W A D D A ' W A H



LIL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS

Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin ‘Amr RA, Rasulullah SAW. bersabda (yang artinya): ”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah seorang wanita sholehah”. Dan hal ini benar-benar terwujud dalam kehidupan rumah tangga beliau SAW, karena Allah telah memilih untuk Rasulullah istri yang amat sholehah dan mulia, dialah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Perkawinan dengan Sayyidah Khadijah RA (556-620 M) menjadika Nabi Muhammad SAW sebagai kepala keluarga yang berdiri sendiri, tidak seperti sebelumnya, beliau harus mengikuti pengasuhnya: ibunya, kakeknya, dan terakhir pamannya. Saat itu beliau tingga serumah dengan istrinya dan membentuk mahligai keluarga yang tenang dan terteram, penuh kasih sayang serta persatuan yang padu

Meski umur mereka berbeda, seorang perjaka mengawini janda umur 40 tahun dengan beberapa anak, ini justru melahirkan perkawinan yang ideal. Nabi Muhammad mengawini Sayyidah Khadijah karena budi pekertinya yang luhur. Dan pilihan kepada Sayyidah Khadijah tentu tidak terlepas dari ketentuan dan pilihan Allah.

Sayyidah Khadijah adalah wanita Quraisy yang nasabnya paling terhormat, paling kaya, dan cerdas, selain cantik dari segi fisik dan akhlaqnya. Disamping itu, ia juga memiliki sifat-sifat yang mulia. Semua kelebihan itu terkumpul pada dirinya.

Ayahnya bernama Khuwailid, salah seorang tokoh suku Quraisy yang sangat dihormati. Sedangkan ibunya adalah Fathimah, yang nasabnya bersambung kepada silsilah para nabi yang penuh berkah. Oleh sebab itu, Sayyidah Khadijah adalah istri yang nasabnya paling dekat kepada Nabi SAW.

Sayyidah Khadijah sempat mengikuti perkembangan terakhir zaman Jahiliyah. Pada waktu itu ia memiliki kedudukan yang terhormat di kalangan kaumnya, cantik dan berbudi mulia. Pada zaman Jahiliyah, ia dipanggil At Thahirah(Wanita Suci), karena kesucian jalan hidup dan perilakunya. Dia sangan terkenal di kalangan wanita Quraisy karena otaknya yang cemerlang, pendapatnya yang sangat bagus, dan hatinya yang bersih.

Pertama kali, dia dipersunting oleh Atiq bin ‘Abid, tapi tidak lama kemudian ‘Atiq meninggal dunia. Kemudian dia dinikahi oleh seorang tokoh lain, Abu Halah bin Zararah At-Tamimi, dan dianugerahi seorang putra bernama Hindun. Tidak lama setelah itu suaminya pun meninggal dunia.

Kemudian Sayyidah Khadijah menjadi incaran para pemuda dan pemuka Quraisy. Namun Allah memberikan karunia kepadanya untuk menjadi istri Nabi Muhammad.

Sayyidah Khadijah menunjukkan sikap wanita yang sangat dihormati, mencintai dan bersikap jujur terhadap suami. la memperlakukan suaminya dengan sangat baik dan mengangkat harkatnya. Dengan sekuat tenaga, Sayyidah Khadijah membantu dan melaksanakan seluruh kewajibannya sebagai seorang istri dengan sangat setia.

Rasulullah sangat menghormatinya. Sayyidah Khadijah memperoleh kedudukan yang sangat terhormat dalam diri dan hati Rasulullah. Tidak henti­-hentinya beliau mengakui kelebihan Sayyidah Khadijah, sehingga belum pemah terbetik sekali pun dalam hati beliau untuk menikahi wanita lain selama hidup berdampingan dengannya.

Wanita Islam Pertama '

Ada masa berkesan ketika Rasulullah menerima wahyu yang pertama di Gua Hira'. Hampir selama empat puluh hari Rasulullah bertahanuts (menyendiri) di Gua Hira'. Sayyidah Khadijah mempersiapkan keperluan untuk suaminya. Setiap kali keperluan itu habis, ia menyiapkan penggantinya.

Ketika turun wahyu melalui perantaraan Malaikat fibril, Rasulullah kembali kepada sang istri dengan muka pucat pasi.

"Selimuti aku! Selimuti aku!"

Kemudian Sayyidah Khadijah menutupi tubuh beliau dengan selimut hingga rasa takut itu hilang. Setelah itu beliau menceritakan kepada Sayyidah Khadijah apa yang telah terjadi. "Aku takut sesuatu akan terjadi.padaku.."

Sayyidah Khadijah berkata kepada beliau untuk menghiburnya, "Demi Allah, aku gembira. Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang mau menyambungkan tali silaturahim, berbicara benar, memberi orang yang tidak punya, menyampaikan amanat, menghormati tamu, dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang ditimpa kemalangan."

Setelah itu, Sayyidah Khadijah pergi menemui anak pamannya, Waraqah bin Nawfal, seorang Nasrani yang telah membaca berbagai kitab suci, terutama Taurat dan Injil. Kepada Waraqah, Sayyidah Khadijah menceritakan pengalaman suaminya itu.

Waragah membenarkan bahwa sosok yang datang kepada suaminya adalah Malaikat Jibril, dalam istilah waktu itu adalah Namus. Karena itulah, Sayyidah Khadijah langsung menyatakan keislamannya kepada Nabi Muhammad SAW. Dia adalah wanita pertama yang masuk Islam.

Sayyidah Khadijah berusaha meringankan beban suaminya dalam berdakwah secara sembunyi atau terang-terang. la bersabar atas hinaan dan cercaan kepada suaminya. la juga cukup menderita karenanya, tetapi ia sabar dalam menerima cobaan itu, tidak pernah mengeluh. Berbagai ujian dan cobaan itu sedikit pun tidak mempengaruhi ketenteraman hidup rumah tangganya.

Cara hidup Sayyidah Khadijah merupakan teladan bagi kaum wanita. la adalah wanita shalihah, penyabar, pandai bersyukur, bahkan bersedia mengorbankan harta dan jiwanya demi suaminya ketika menghadapi berbagai cobaan.

Hadits tentang Sayyidah Khadijah

Di dalam sebuah riwayat disebutkan, Jibril berkata, "Wahai Muhammad, aku titip salam buat Khadijah dari Tuhannya "

Maka Nabi SAW bersabda, "Wahai Khadijah, ini Jibril yang membawa titipan salam untukmu dari Tuhanmu."

Sayyidah Khadijah menjawabnya dengan jawaban yang sangat bagus, "Allah adalah keselamatan (as-salam), dari-Nya pula keselamatan itu. Juga kuucapkan salam kepada Jibril AS."

Abu Hurairah meriwayatkan, Jibril berkata kepada Nabi SAW, "Beri tahukan kepada Khadijah bahwa di surga ia memiliki sebuah rumah yang terbuat dari bambu, yang tidak berisik dan tidak ramai:"

Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan, apabila menyebutkan nama Sayyidah Khadijah, Rasulullah selalu memujinya dengan pujian yang sangat bagus. Hal itu membuat Sayyidah Aisyah merasa cemburu kepadanya

"Alangkah banyak apa yang kau ingat tentang si Pipi Merah itu, padahal engkau telah mendapatkan gantinya yang lebih baik daripada dia, "katanya suatu hari.

"Allah belum memberikan gantinya kepadaku yang lebih baik daripada dia. la telah beriman kepadaku ketika semua orang ingkar kepadaku. la telah membenarkanku ketika semua orang membohongkan aku. la telah memberikan semua hartanya kepadaku ketika orang memboikotku. la telah memberikan anak laki-laki kepadaku ketika semua istriku tidak memberikannya, jawab Rasulullah.

Masih dari riwayat yang dituturkan oleh Sayyidah Aisyah. Sayyidah Aisyah berkata, "Rasulullah kerap kali menyebut-nyebut Sayyidah Khadijah. Kemudian aku berkata kepadanya, 'Allah telah menjadikan aku sebagai pengganti wanita tua Quraisy yang merah pipinya itu.'

Mendengar itu, wajah Rasulullah SAW merah padam. "Belum pernah aku melihat sebelumnya kecuali pada saat ada wahyu yang turun. Jika Rasulullah sudah begitu, dapatlah dibedakan apakah ia sedang mendapatkan kesenangan atau kesedihan."

Ibnu Abbas RA menuturkan, Rasulullah SAW membuat empat garis. "Tahukah kalian, apakah ini?" tanya Rasulullah.

"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui," jawab sahabat.

"Wanita penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah bind Khuwailid, Fathimah binti Mohammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah istri Fir'aun; " sabda Nabi.

Sayyidah Khadijah mendampingi Nabi Mohammad selama dua puluh empat tahun. Hingga tiba saatnya wanita mulia itu menghadap Sang Khaliq, tiga tahun sebelum Hijrah, pada bulan Ramadhan, di AI-Hajun, dalam usia enam puluh tahun. Rasulullah sendiri yang turun ke liang lahatnya. Beliau tampak begitu sedih.

Putra-putri Rasulullah

Dari Sayyidah Khadijah, Nabi dikarunia enam anak. Yakni, Qasim danAbdullah, kedua anak lelaki ini meninggal sewaktu masih kecil. Karena itulah, sebelum umat Islam dilarang memanggil nama asli Nabi, mereka memanggilnya "Aba Qasim" (bapaknya Qasim)­

Sebuah hadits shahih menyebutkan, Nabi bersabda, "Namailah diri kalian dengan namaku, tetapi jangan berkun-yah dengan kun-yahku. Hanya akulah Qasim (pembagi). Aku membagi di antara kalian." (HR Muslim). Maksudnya, apabila ada seorang ayah yang memiliki anak tertua lelaki bernama Qasim, tidak boleh meminta dirinya dipanggil Aba Qasim, sebagaimana Rasulullah. Atau, lebih baik nama Qasim itu untuk anak nomor dua dan seterusnya.

Kemudian disusul keempat anak lainnya, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah Az­ Zahrah. Sayyidah Zainab lahir ketika usia Rasulullah genap tiga puluh tahun. Setelah dewasa, is menikah dengan anak bibinya, Abu Al-'Ash bin Al-Rabi', sebelum masa kenabian Nabi Mohammad. Pasangan ini dikarunia dua putra, Ali dan Umamah. Umamah pada saatnya dinikahi Ali bin Abi Thalib RA. Zainab meninggal di Madinah pada tahun kedelapan Hijrah.

Sayyidah Ruqayyah lahir pads saat Rasulullah SAW berusia tiga puluh tiga tahun. Setelah dewasa, ini dinikahi'Utbah binAbu Lahab.

Ketika turun surah Al-Lahab, Abu Lahab, memerintahkan anaknya menceraikan istrinya. Kemudian Ruqayah dinikahi Ustman bin Affan RA di Makkah. Pasangan ini dikaruniai seorang anak bemama Abdullah, tetapi beberapa hari kemudian meninggal dunia karena sakit. Putri ketiga Nabi ini meninggal setahun sepuluh hari setelah peristiwa Hijrah.

Sayyidah Ummu Kultsum lahir beberapa tahun setelah Sayyidah Ruqayah. la dinikahi oleh Utaybah bin Abu Lahab, tapi mengalami nasib sama, diceraikan oleh anak Abu Lahab itu. Setelah Ruqayah meninggal, Sayyidah Ummu Kultsum dinikahkan dengan Ustman bin Affan RA atas perintah dan wahyu dari Allah. la tidak mempunyai anak, dan meninggal pada tahun kesembilan Hijriyah.

Yang terakhir, Sayyidah Fathimah, lahir ketika Nabi berusia tiga puluh lima tahun. la menikah dengan Ali bin Abi Thalib RA pada tahun dua Hijriyah, pada waktu itu umurnya sembilan belas tahun. Pasangan ini dikaruniai lima putra. Yaitu, Hasan, Husin, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab. Muhsin meninggal dunia ketika masih kecil. Sayyidah Fathimah meninggal pada malam Selasa, 3 Ramadhan 11 H, pada usia dua puluh delapan tahun. Jenazahnya dikuburkan di Baqi', dishalatkan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Sayyidah Fathimah meninggal setelah enam bulan Rasulullah menghadap Yang Mahakuasa.

KISAH DAN HIKMAH

Asiah binti Muzahim

Banyak sekali contoh mengenai sosok wanita ideal yang dijamin masuk surga. Di antaranya adalah yang disebutkan Rasulullah SAW, "Sebaik-baik wanita surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam, dan Asiah." (HR Baihaqi). Mereka bukan sembarang wanita, karena begitu banyak sisi kehidupan mereka yang diabadikan oleh sejarah.

Asiah bind Muzahim dialah salah seorang wanita beriman yang dijamin masuk surge, bahkan menjadi salah satu di antara pemimpin para wanita di surga, meski ketika di dunia ditakdirkan menjadi pendamping Fir’aun yang dhalim.

Ketika masih gadis, Asiah merupakan bunga di kotanya. Bahkan kecantikannya terkenal sampai ke penjuru kota. Ketika mendengar hat itu, Fir'aun segera melamarnya untuk dijadikan permaisuri.

Sifat Asiah, yang lemah lembut, rendah hati, sungguh amat kontradiktif dengan sifat Fir'aun, yang kasar, sombong, kejam, dan selalu mempunyai keinginan berlebih untuk disanjung dan dihormati. Bahkan ia mengaku sebagai tuhan, dan seluruh rakyat diperintahkan menyembahnya.

Setelah menjadi permaisuri, Asiah adalah wanita yang paling dekat dan sangat dicintai Fir'aun. la bahkan mendapatkan perkecualian dari hukum Fir'aun yang sangat kejam. Hal ini terbukti saat sang permaisuri mengangkat anak seorang bayi laki-laki yang diambil dari sebuah peti dari Sungai Nil. Padahal, ketika itu Fir'aun memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki yang lahir di seantero Mesir.

Bayi itu kemudian diberi nama Musa. Dan lewat anak angkatnya inilah, suatu ketika Asiah beriman kepada Allah Ta'ala. Asiah hidup di dalam istana Fir'aun, yang begitu ditakuti rakyatnya. Bukan hanya itu, orang-orang terdekat suaminya adalah penjilat dan pejabat tamak_ Pam penyihir Fir'aun jugs selalu mengamini keinginannya. Dalam lingkungan demikianlah, Asiah harus mempertahankan keyakinannya

Pada suatu hari, Asiah diajak Fir'aun untuk menyaksikan adu kekuatan antara Musa dan tukang-­tukang sihir yang kesohor di negerinya. Seluruh rakyat pun diundang, karena Fir'aun yakin. bahwa Musa akan kalah.

Hati Asiah tersekat ketika tukang sihir Fir'aun melemparkan tali-tali yang dipegangnya. Seketika itu pula, tali-tali itu berubah menjadi ular yang amat banyak_

Tapi, hati Asiah menjadi lega ketika melihat ketenangan yang luar biasa terpancar dan wajah anak angkatnya itu. Tak sedikit pun Musa merasa gentar, karena ia telah mendapat mukjizat dari Allah. la menjatuhkan tongkat yang sedang dipegangnya. Dan ajaib, tongkat itu berubah menjadi ular besar yang kemudian memakan ular-ular para tukang sihir itu.

Dalam hati Asiah amat senang. Sebaliknya dengan Firaun, ia murka sejadi-jadinya, apalagi saat tukang-tukang sihir itu berbalik arah, beriman kepada Tuhannya Musa.

Ditatapnya permaisurinya yang cantik itu dengan tatapan yang menusuk hati.

"Apakah engkau menyaksikan hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang tidak mengakui aku sebagai tuhan yang agung?"

Dengan pandangan yang jijik dan penuh kebencian, Asiah berpaling dari pandangan suaminya. Mengingat apa yang telah dilakukan Fir'aun terhadap masyitah (juru sisir kerajaan), yang dihukum mati karena mempertahankan keimanannya kepada Tuhan, tiba-tiba muncul dalam dirinya kekuatan untuk melawan suaminya.

Maka dengan perasaan benci yang menggunung, Asiah dengan lantang berkata, "Engkau akan celaka menghadap siksaan Allah, wahai Firaun!"

Bagaikan disambar petir, Fir'aun terkesiap mendengar apa yang diucapkan istri yang dikasihinya itu. Dengan tatapan tajam ia menatap Asiah sambil menggeram, "Apakah engkau telah gila seperti dayang­-dayangmu itu?"

Kini Asiah merasa sudah benar-benar lepas dari Fir'aun serta merasa siap dengan siksaan yang bakal dihadapi. Maka tidak ada gunanya lagi untuk takut terhadap suaminya yang zhalim itu. la semakin berani menentang Firaun, "Aku tidak gila. Tetapi aku beriman kepada Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan semesta alam ini"

Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata kemarahaa Fir'aun saat itu, karena merasa dikhianati oleh orang yang paling dekat dan paling dicintainya.

Seketika itu Fir'aun menyuruh pengawalnya untuk mendirikan empat tiang. Lalu diikatnya kaki dan tangan Asiah pada keempat tiang tadi dengan tubuh terlentang. Kemudian Fir'aun memerintahkan kepala algojo untuk mencambuk Asiah dengan keras.

Di sela-sela penyiksaan yang kejam itu, Fir'aua masih membujuk Asiah supaya kembali kepadanya. Tetapi Asiah tidak menggubrisnya. la tetap pada keimanannya. Di mulutnya yang lemah, sesekali terdengar ucapan, 'Tiada Tuhan selainAllah:'

Semakin keras cambukan yang diterimanya, semakin kuat pula iman yang tertancap di dada wanita shalihah ini. Hingga akhimya, Fir'aun menindih tubuh Asiah dengan batu besar.

Namun sebelum itu, Asiah sempat mengucapkan doa yang amat terkenal dan diabadikaa dalam AI-Quran, "Ya Allah, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim." (QS At­Tahrim: 11).

Seketika itu pula Asiah melihat malaikat yang membentangkan sayapnya untuk melindunginya, dan diperlihatkan kepadanya sebuah rumah yang telah disediakan untuknya. Asiah pun tersenyum sesaat, sebelum embusan napasnya yang terakhir.

Karena itu, ketika siksaan Fir'aun mencapai puncaknya, yaitu menaruh batu yang sangat besar dan berat di atas tubuh Asiah, sesungguhnya wanita shalihah itu sudah tidak bernyawa. Sehingga ia tidak merasakan lagi puncak penyiksaan itu.

Edisi 133, 11 April 2008 / 05 Rabi'uts Tsani 1429 H

No comments: