Thursday, August 6, 2009

JADILAH PEMIMPIN DENGAN CINTA

JADILAH PEMIMPIN DENGAN CINTA

Banyak orang bermimpi dan bercita-cita menjadi seorang pemimpin, bahkan untuk mewujudkan harapannya itu terkadang mereka tidak memperdulikan lagi halal atau haram, merugikan orang lain atau tidak. seakan-akan kekuasaan adalah segala-galanya. Satu tahta kekuasaan diperebutkan banyak orang, sementara yang menaiki tahta itu pastilah hanya satu orang saja yang pada saatnya iapun akan turun dari tahta itu dan digantikan oleh orang lain.
Tetapi sekalipun sudah tidak berkuasa, tanggung jawab dan beban akan tetap berada di pundaknya sehingga dia mampu untuk berdiri kelak di hadapan Dzat yang Maha Berkuasa, di depan pengadilan dan akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang pernah dipimpinnya.
Apakah mereka sudah lupa ataukah dilalaikan oleh nafsunya dari sabda Rasulullah.”Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya”.
untuk itulah hendaknya para pemimpin negeri ini menjadikan Rasulullah dan para sahabat beliau sebagai uswah (teladan) dalam kepemimpinan mereka dan kejujuran serta ketegasan mereka dalam menjalankan roda pemerintahan yang adil dan sesuai dengan syari’at. Sehingga dapat diharapkan rakyat ini menjadi makmur dan sejahtera sebagaimana hal itu sudah sejak lama didambakan oleh setiap manusia.
Berikut ini beberapa contoh kisah keteladanan para pemimpin umat yang telah berhasil memakmurkan rakyatnya dan menghantar mereka menuju kehidupan yang lebih baik dan adil.

Memimpin dengan Cinta

Suatu saat Abdullah Al-Bajaliy, salah seorang sahabat Nabi, terlambat dating di majelis Rasulullah SAW. karena dating terlambat, temaptpun sudah penuh. Dia lalu mencari-cari tempat duduk.
Nabi membuka gamisnya. Dengan tangannya sendiri, beliau melipat baju itu, lalu mengantarkannya kepada Abdullah. ”Ini untuk tempat dudukmu.” kata Rasulullah.
Tapi, Abdullah tidak mendudukinya. Dia malah mencium baju Nabi SAW. Dengan mata berlinang haru ia berkata, “Ya Rasulullah, semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau telah memuliakanku.”
Dengan tersenyum Nabi berkata.”Bila datang kepada kalian seorang yang mulia dari suatu kaum, muliakanlah dia.”
Peristiwa tersebut adalah penggalan kehidupan Nabi SAW bersama sahabatNya yang mengesankan. Didalamnya terkandung makna penghormatan, perhatian, dan kasih sayang. Perlakuan seorang sahabat terhadap sahabatnya. Seorang guru terhadap muridnya. Seorang pemimpin terhadap rakyatnya.
Rasulullah adalah profil tentang sosok pemimpin yang sukses besar dalam kepemimpinannya. Ia mengubah dengan sangat cemerlang pribadi-pribadi jahil dari gurun menjadi pemimpin peradaban di masanya. Dan kebesarannya tidak terukur lewat kemampuannya untuk memaksa orang lain mengikutiNya. Ia memimpin dengan cinta. Kebesarannya terukur dari ketinggian akhlaqnya.
Pada peristiwa Hudaibiyah, Urwah Ats Tsaqafi mewakili kaum Quraisy untuk berunding dengan Rasulullah SAW. Dia terpesona dengan cara sahabat memperlakukan Nabi SAW. Ketika beliau berwudlu, orang memperebutkan air ludahnya, dan ketika rambutnya jatuh, orang berdesakan mengambil rambutnya.
Ketika Urwah kembali ke kaumnya, dia berkata ”Hai kaum Quraisy, aku pernah mendatangi Kisra di kerajaannya, aku pernah menemui Kaisar di keratonnya, Najasyi di istananya. Belum pernah aku melihat orang memperlakukan rajanya seperti sahabat-sahabat Muhammad memperlakuan Muhammad.”
Urwah benar. Bila Rasulullah datang ke sebuah tempat, manusia berbondong-bondong menemuinya. Mereka berdesak-desakan untuk sekedar mencium tangannua. Perempuan membawa anak-anak mereka, meminta Nabi mengusapkan jari-jemarinya pada wajah anak-anak itu sambil mendoakannya.
Hanya untuk lebih dekat dengan Rasulullah, tidak jarang para sahabat mencari akal. Seperti yang dilakukan oleh Sawad bin Ghazyah dalam perang Badar. Ketiak Nabi sedang meluruskan barisan. Sawad maju ke muka. Rasulullah memukul perutnya dengan anak panah, “Luruskan barisanmu, wahai Sawad!”.
Sawad memprotes. ”Ya Rasulullah, engkau menyakitiku, padahal Allah telah mengutusmu dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku ingin menuntun qishash.” Para sahabat yang yang lain berteriak, “Hai engkau mau menuntut balasa kepada Rasulullah SAW.” Nabi SAW menyingkapkan perutnya, dan berkata, “Balaslah …” Tapi Sawad malah memeluk tubuh Nabi SAW dan menciumnya. Rasul bertanya, “Hai Sawad, apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?” Sawad berkata, “Ya Rasulullah, sudah terjadi apa yang engkau persaksikan. Ingin sekali pada akhir pertemuanku denganmu kulitku menyentuh kulitmu. Berilah aku syafa’at pada hari Kiamat.” Nabi SAW kemudian mendoakan kebaikan baginya.
Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang ditaati karena cinta. Namun bukan berarti beliau tidak berwibawa. Simak cerita Usamah bin Syarik berikut, “Bila kami duduk mendengarkan Rasulullah, kami tidak sanggup mengangkat kepala kami, seakan-akan di atas kepala kami bertengger burung-burung.”
Al-Barra bin Azib berkata. ”Aku bermaksud bertanya kepada Rasulullah SAW tentang satu urusan, tetapi aku menangguhkannya sampai dua tahun karena segan akan wibawanya.”
Pernah juga seorang dusun menemui Nabi SAW. Tubuhnya bergetar sehingga Nabi berusaha menenangkannya.”Tenangkan dirimu,” Kata Rasulullah.” Aku ini manusia biasa …”
Nabi berwibawa karena dicintai olah pengikutnya. Memimpin dengan cinta.
Keteladannya itulah yang mestinya diikuti para pemimpin di negeri ini. Seorang penguasa yang memimpin dengan cinta tentu tak akan tega melihat rakyatnya hidup menderita.

Menyayangi Kaum Dhu’afa

“Aku menjadi pelayan Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Belu pernah beliau memukulku satu pukulan pun, tidak pernah membentakku atau bermuka masam kepadaku. Bila aku malas melakukan apa yang diperintahnya, beliau tidak memamkiki. Bila salah seorang diantara keluarganya mengecamku, beliau berkata, “Biarkanlah dia,” demikian pengakuan Anas bin Malik, khadan (pembantu) Rasulullah.
Anas juga berserita bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk memperlakukan pembantunya dengan baik. Mereka harus makan makanan yang sama dengan apa yang dimakan tuan mereka. Mereka tidak boleh dipermalukan atau dipanggil dengan panggilan yang tercela.
Menurut Anas, Rasulullah SAW sering kali melayani para pelayan di Madinah. NAbi SAW juga tidak jarang mengantarkan budak-budak untuk memenuhi keperluan mereka, bahkan perempuan yang sudaj pikun.
Pada suatu hari, para sahabat menemukan Rasulullah SAW sedang memperbaiki sandal anak yatim, dan pada hari yang lain sedang menjahit pakaian kumal milik perempuan tua yang miskin.
Beliau mengumpulkan sebagian sahabatnya yang miskin di sudut masjidnya, lalu membagikan makanan sedikit yang dipunyainya untuk mereka. Sehingga beliau tidak pernah makan kenyang selama tiga hari berturut-turut.
Abu Hurairah juga menceritakan betapa Rasul sangat merasa kehilangan seorang perempuan hitam yang pekerjaannya “hanya” menyapu masjid, yang oleh sebagian orang, bahkan juga sahabat, dianggap remeh.
Suatu hari beliau tidak menemukan wanita itu, Rasulullah menanyakan ihwalnya, dan beliau sangat kecewa ketika ia meninggal dan beliau tidak dikabari.”Kenapa aku tidak diberitahu!”
Lalu Rasulullah meminta ditunjukkan kuburnya. Di atas kuburan perempuan tersebut Rasulullah SAW melakukan shalat untuknya.
Mari kita simak juga kisah Sa’d bin Muadz Al-Anshari. Waktu itu Rasulullah SAW pulang dari Tabuk. Beliau melihat tangan Sa’d yang menghitam dan melepuh.
“Kenapa tanganmu?” Tanya Rasulullah.
“Akibat palu dan sekop besi yang sering saya pergunakan untuk mencari nafkah untuk keluarga yang menjadi tanggunganku.”
Maka Rasulullah SAW pun memegang tangan itu dan bersabda,”Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka.”
Lihatlah, betapa Rasulullah SAW, yang tangannya diperebutkan untuk dicium, saat itu memegang tangan kasar. Begitulah beliau, sang pemimpin besar dunia dan akhirat, memperlakukan kaum dhuafa.


Sayyiidina Umar bin Khattab

Suatu malam, seperti malam-malam sebelumnya, Umar bin Khaththab mengendap berjalan keluar dari rumah petak sederhana.
Masih seperti malam kemarin, ia sendirian menelusuri jalanan yang sudah seperti napasnya sendiri. Dengan udara padang pasir yang dingin tertiup, ia menulam langkah-langkah merambahi rumah-rumah yang penghuninya ditelan lelap. Ia tak ingin malam itu terlewati tanpa mengetahui bahwa mereka baik-baik saja. Sungguh tak akan pernah rela ia harus berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak ada derita.
Madinah sudah tersusuri, malam sudah hamper di puncak. Angkasa bertabur kejora. Ia masih berjalan, meski lelah jelas terasa. Sesekali ia mendongak, melabuhkan pandangan ke langit Madinah yang terlihat jelita. Maka ia pun tersenyum seperti terhibur dan memuja Sang Pencipta. Tak terasa Madinah sudah ditinggalkan, ia berjalan sudah sampai di luar kota.
Namun langkahnya terhenti ketika dilihatnya seorang lelaki yang tengah duduk sendirian menghadap sebuah pelita.
“Assalamu’alaikum, wahai Fulan,” ia menegur lelaki itu dengan santun.” Apakah yang engkau lakukan malam-malam begin sendirian?”
Lelaki itu tidak jadi menjawab ketika didengarnya dari dalam tenda suara perempuan yang memanggilnya dengan mengaduh. Dengan tersendat ia memberi tahu bahwa istrinya akan melahirkan. Ia bingun, karena tak ada sanak saudara yang dapat diminta pertolongannya.
Setengah berlari Umar bin Khaththab yang pergi, menuju rumah sederhananya yang masih sangat jauh. Ia menyeret kakinya yang sudah lelah karena telah mengelilingi Madinah. Ia terus saja berlari, meski kakinya merasakan dengan jelas batu-batu yang dipijaknya sepanjang jalan. Tentu saja karena alas kakinya telah tipis dan dipenuhi lubang. Ia jadi teringat kembali sahabat-sahabatnya yang mengingatkan agar ia membeli sandal yang baru.
“Ummi Kultsum, bangunlah, ada kebaikan yang bisa kau lakukan malamm ini.” ia mmbangunkan istrinya dengan napas tersengal.
Sosok perempuan itu menurut tanpa sepatah kata. Dan kini sang khalifah tak lagi sendiri berlari. Berdua mereka membelah malam. Allah menjadi saksi keduanya dan memberikan rahmat hingga dengan selamat mereka sampai di tenda lelaki yang istrinya akan melahirkan itu.
Ummi Kultsum segera masuk dan membantu persalinan.
Allah Maha Besar, suara tangis bayi pun terdengar. Ibunya selamat. Lelaki itu bersujud mencium tanah dan kemudian menghampiri Umar bin Khaththab sambil berkata,”Siapakah engkau, yang begitumullia menolong kamu?”
Sang khalifah tidak perlu memberikan jawaban, karena suara Ummi Kultsum saat itu memenuhi lengangnya udara, “Wahai Amirul Mu’minin, ucapkan selamat kepada tuan rumah. Telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah.”
Betapa terpesona kita mengenang kisah indah Khalifah Umar bin Khaththab. Ia adalah seorang pemimpin Negara, tapi sejarah mengabadikan, kesehariannya sebagai orang sederhana tanpa berlimpah harta. Ia adalah orang yang paling berkuasa, tapi lembaran kisah hidupnya begitu penuh pengabdian dan kerja keras dalam mengayomi seluruh rakyatnya. Ia orang nomor satu, tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal.
Ia seorang penyayang, meski kepada seekor burung. Ia anggap berlari tanpa henti demi menolong seorang perempuan tak dikenal yang akan melahirkan. Dan ia melakukannya sendiri. Ia melakukannya sendiri.

Tahun Abu

Di zaman Khalifah Umar bin Khaththab, pada tahun ke- 17 Hijriyyah, pernah terjadi bencana kelaparan yangmengerikan. Penyebabnya, di seluruh Semenanjung Arab (Hijaz) tidak turun hujan selama enam bulan, dan terjadi hujan abu dari gunung. Tanah menjadi hitam gersang penuh abu dan mematikan segala tanaman di atasnya. Tahun tersebut dinamai “Tahun Abu” (AmarRamaadah).

Hewan-hewan yang ada kurus kering, tetapi karean mereka lapar akhirnya hewan-hewan itu pun terpaksa disembelih.
Penduduk di pedalaman ramai-ramai mengungsi ke Madinah. Umar sendiri ikut mengurus makanan penduduk Madinah dan para pengungsi. Ia turut mengolah roti dengan zaitun untuk dijadikan roti kuah.
Suatu waktu, Umar disuguhi roti yang yang diremukkan dengan samin (lemak). Ia memanggil seorang Badui dan roti itu dimakan bersama-sama.
Setiap kali menyuap, mulut orang Badui tersebut berlepotan. “ Tampaknya engkau tak pernah mengenyam lemak.” Kata Sayyidina Umar.
“Ya,” orang Badui itu mengaku tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun, dan ia juga tak melihat orang memakannya sejak sekian lama sampai saat itu.
Mendengar pengakuan tersebut, Sayyiduna Umar bersumpah, sejak saat itu tidak akan lagi makan daging atau samin sampai orang hidup seperti biasa. Ia tetap bertahan dengan sumpahnya, sampai dengan izin Allah musim paceklik berakhir.
Ia melayani dan menyertai mereka semua untuk memberi ketenangan. Banyak orang mengatakan, andai kata paceklik tersebut berjalan lebih lama lagi, Sayyiduna Umar-lah yang paling menderita dan hidup dalam kesedihan memikirkan kaum muslimin.

Tuesday, January 13, 2009

HARTA YANG PENUH BERKAH

MAJLIS TAKLIM
W A D D A ’ W A H
LIL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS

Malang- Indonesia
Edisi 167, 9 Januari 2009
===============================================================

HARTA YANG PENUH BERKAH

Sering sekali kita mendengar perihal harta barokah. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan harta yang barokah itu, dan apakah hubungannya dengan zakat?

Harta yang barokah ialah harta yang menyebabkan seseorang yang mempergunakannya memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa sehingga mampu mendorongnya untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Harta yang demikian inilah pada hakekatnya sangan didambakan dan dicari oleh setiap orang, sebab ketenangan dan ketenteraman jiwa itulah yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup seseorang.

Dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan bahwa yang dimaksud barokah adalah sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesame, ziyadatul khoir ‘ala al ghoir. Bila dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud dengan harta yang barokah itu sebagaimana dipaparkan di atas.

Harta-harta yang barokah itu, haruslah yang halal dan baik, karena sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong kita kepada kebaikan diri maupun orang lain, sebagaimana isyarat Allah SWT. dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 168 yang artinya:
“Wahai manusia, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi yang halal dan baik. Dan janganlah kamu sekalian mengikuti jejak langkah dari syaithan, karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuhmu yang nyata”.

Dalam kesempatan yang lain Nabi Muhammad juga pernah menyatakan bahwa setiap daging yang timbul atau dihasilkan dari sesuatu yang haram maka hanyalah neraka yang patut menerimanya.
Secara rinci yang dimaksud dengan halal di sini adalah:
1. Halal wujudnya, yaitu apa saja yang tidak dilarang oleh agama Islam, seperti makanan dan minuman yang tidak diharamkan syari’at agama Islam.
2. Halal cara mengambil atau memperolehnya, yaitu tidak dilarang oleh syari’at agama Islam, seperti harta yang diperoleh dari ongkos pekerjaan yang halal menurut pandangan syari’at agama Islam, sedang ongkos tersebut juga berasal dari hasil pekerjaan yang halal
3.Halal karena tidak tercampur dengan hak milik orang lain, karena sudah dikeluarkan zakatnya. Harta yang demikian itu, jika berupa bahan makanan dan dimakan oleh seseorang maka pengaruhnya sangat positif bagi kesehatan mental atau jiwa seseorang.

Setiap orang yang lahir di dunia ini oleh Allah SWT. telah dibekali dengan dua macam dorongan nafsu, yakni: nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat durhaka dan nafsu yang mendorong untuk berbuat taqwa (kebajikan).

Dalam surat As Syam ayat 7 dan 8 Allah SWT. telah berfirman:”Demi jiwa dan apa-apa yang menyempurnakannya, maka Allah mengilhamkan pada jiwa tersebut kedurhakaan dan ketaqwaannya”.

Kedua macam dorongan tersebut tidak dapat terwujud menjadi perbuatan yang nyata, manakala dalam diri seseorang tidak ada energi. Sedangkan energi itu adalah berasal dari bahan makanan. Sehingga apabila bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah halal, maka energi yang ditimbulkan oleh bahan makanan tersebut adalah energi yang halal. Energi yang halal inilah yang mudah diserap dan dipergunakan oleh dorongan yang mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq yang dilakukan oleh seseorang akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut dengan “Ego Ideal”. Ego Ideal inilah yang selalu menghibur dan menenteramkan jiwa seseorang.

Sebaliknya, jika bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah berasal dari harta yang haram, maka energi yang timbul dari bahan makanan tersebut adalah energi yang haram, yang akan diserap oleh nafsu yang mengajak kepada kejelekan, kesalahan dan kebatilan.

Manakala seseorang telah melakukan perbuatan yang jelek atau salah atau batil, maka perbuatan ini akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmun Freud disebut consciense. Kemudian consciense ini selalu menuntut jiwa manusia itu sendiri atas kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang telah dilakukan, sehingga ketenteraman jiwa menjadi terganggu. Semakin banyak kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang dilakukan oleh seseorang, maka semakin besar tuntutan dari consciense dan semakin goncang ketenangan dan ketenteraman jiwanya, sehingga pada akhirnya orang yang selalu memakan makanan yang berasal dari harta yang haram akan dihadapkan pada dua alternative, yaitu:
1. Jika kondisi jasmaninya kuat, maka jiwanya akan jebol dan akan terkena penyakit jiwa
2. Jika kondisi jiwanya kuat, maka ia akan terserang penyakit psychosomatic

Sedang yang dimaksud dengan makanan yang baik menurut ayat 168 dari surat Al Baqarah di atas, adalah baik menurut syarat-syarat kesehatan.

Sebab makanan yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan akan menyebabkan kondisi jasmani menjadi mudah terserang oleh berbagai macam penyakit. Seseorang tidak akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa manakala badan jasmaninya selalu sakit-sakitan.

Disamping itu perlu kita ketahui bahwa harta yang diberikan oleh Allah SWT. kepada seseorang itu didalamnya terdapat hak milik fakir miskin yang dititipkan oleh Allah SWT. kepadanya. Hal ini telah diterangkan oleh Allah SWT. dalam Al Qur’an surat
Adz Dzariyaat ayat 19:” Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian".

Harta orang miskin yang dititpkan oleh Allah SWT. pada orang-orang kaya itu harus dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak, baik berupa zakat wajib maupun zakat sunnah, agar harta orang-orang kaya tersebut menjadi halal, karena tidak lagi tercampur dengan hak milik orang-orang miskin. Jadi zakat ini mempunyai peranan yang penting sekali untuk membuat harta yang kita miliki menjadi barokah, karena zakat juga merupakan elemen yang menjadikan harta itu bisa memberikan kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain.

Jika kita mau mengadakan penelitian atau research terhadap orang-orang kaya yang hartanya tercampur oleh harta yang tidak halal, baik wujudnya, atau cara mengambilnya, atau belum dizakati, maka kita akan mendapati kehidupan keluarga mereka itu ternyata tidak bahagia sebagaimana yang kita bayangkan. Kebahagiaan yang mereka dambakan ternyata hanya sebagai fatamorgana belaka. Dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 39 Allah SWT. telah berfirman:
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya”.

Jadi harta yang barokah itu sangat besar peranannya dalam mencapai kebahagiaan hidup seseorang, baik di dunia maupun akhirat. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
Mencari yang halal itu adalah kewajiban sesudah shalat fardlu”. (HR. At Thabarani dalam Al Mu’jam al Kabir dari Abdullah bin Mas’ud)
Wallahu a’lam bish showab

Monday, September 15, 2008

Dengan Puasa (Lapar) Mengharap Kedekatan Kepada Allah

MAJLIS TAKLIM
WADDA’WAH
LIL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS
============================================================================
Dengan puasa (lapar)
Mengharap kedekatan kepada Allah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan kita kembali kepada bulan yang suci ini. Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan rahasia. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini menjadi lebih baik dan sempurna dari yang sebelumnya, dengan kita menghasilkan kualitas ibadah dan ketaatan di dalamnya.
Dan sungguh nerupakan kerugian yang besar jika seorang hamba tidak dapat memaksimalkan ibadah di bulan suci ini. Bukankah Nabi Muhammad SAW sudah menjanjikan, “Barang siapa berpuasa di dalam Ramadhan dengan penuh keimanan (meyakini akan janji baik Allah bagi mereka) dan hanya mengharap ridho Allah semata, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat”.(HR. Bukhori Muslim).
Shiyam (puasa) meruapakan ibadah yang sangat penting. Begitu pentingnya, sehingga Allah SWT menganggapnya sebagai milik-Nya sebagaimana dalam hadist qudsi Allah berfirman, “Sesungguhnya dia (puasa) adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahalanya”. Karena puasa merupakan ibadah khusus yang bahkan “diurus sendiri” oleh Allah SWT, boleh dikata puasa merupakan ibadah yang sarat dengan rahasia, tapi pahalanya tanpa batas.
Pahala yang tak terbatas itu ialah masuk surga, yang prioritasnya ditentukan oleh Allah SWT. Salah satu prioritas yang ditentukan oleh Allah SWT sehingga seorang hamba masuk surga ialah karena ibadah puasanya yang bersungguh-sungguh. Suatu saat Rasulullah SAW berkata kepada istri tercintanya, Sayyidah ‘Aisyah RA. “Sering-seringlah mengetuk pintu surga.”
Aisyah RA bertanya, “Dengan (cara) bagaimana?”
Beliau menjawab. “ Dengan rasa lapar.”
Memang, ada kedekatan atau keterkaitan antara rasa lapar (puasa) dengan pintu surga. Dalam sebuah hadits, Abu Umamah bercerita. “Aku pernah mendaangi Rasulullah seraya berkata, “Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku kedalam surga.”
Beliau menjawab, “Hendaklah engkau berpuasa karena puasa merupakan amalan yang tidak ada tandingannya.”
Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya, dan beliau bersabda (yang artinya) dengan nasihat yang sama.” (HR. Ahamd, Nasa’I, dan Al-Hakim).
Para ahlus shiyam (mereka yang selalu berpuasa) masuk surga dari pintu khusus yang disebut pintu Ar-Rayyan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda (yang artinya): Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Pada hari kiamat diserukan dari pintu itu. “Dimanakah orang-orang yang berpuasa?” Jika mereka semua orang-orang yang berpuasa telah masuk, pintu itupun ditutup kembali.”
Ahlus shiyam terbaik yang sangat layak diteladani ialah Rasulullah SAW. menurut sahabat Anas bin Malik, suatu hari Sayidah Fatimah RA, putri Rasulullah SAW menyampaikan remah-remah roti kepada Rasulullah SAW.”Saya tidak akan merasa tenang sebelum dapat memberikan remah-remah roti ini kepada Ayahnda.” Ujar Sayidah Fatimah RA.
Seketika itu Rasulullah SAW menjawab pelan, “Remah-remah roti ini adalah makanan pertama yang masuk ke dalam mulut ayahndamu selama tiga hari ini.”
Karena sering lapar itulah, terutama karena memang setiap kali tidak ada makanan, Rasulullah SAW lazim mengganjal perut dengan sebuah batu seukuran kepalan tangan. Itu tak berarti tugas dakwah berhenti hanya lantaran perut lapar. Dakwah dan perjuangan jalan terus, meski dalam keadaan berpuasa. Sebab, bagi Rasulullah SAW, dalam keadaan seperti itulah pintu surga terbuka lebar.
Puasa di bulan Ramadhan adalah puasa yang diwajibkan, sebagimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 183. Sudah banyak diketahui betapa besar keutamaan bulan Ramadhan. Imam Ibn Abdi Dun-ya meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Sekiranya orang mengetahui keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, niscaya mereka berharap-harap agar Ramadhan berlaku sepanjang tahun.”
Itu tak berarti bahwa keutamaan dan pahala puasa sunnah itu kurang. Sebab Rasulullah SAW juga menganjurkan kita berpuasa di hari-hari tertentu di luar bulan Ramadhan. Seperti puasa pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), puasa Asyura pada bulan Muharram, puasa enam hari pada bulan Syawwal, puasa 15 hari pada bulan Sya’ban , puasa 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah, puasa pada pertengahan bulan Qamariyah (tanggal 13, 14, 15), puasa pada hari Senin dan Kamis, puasa Nabi Daud (sehari puasa sehari berbuka).
Bahkan ada ulama yang melakukan puasa dahr, yaitu puasa sepanjang tahun kecuali lima hari yang terlarang, yaitu pada dua hari raya (Idul Fitri dan ‘Idul Adha), dan pada tiga hari tasyriq (tiga hari setelah ‘Idul Adha, 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah).
Puasa dahr dilakukan oleh Fudhail bin Iyadh, yang selalu berpuasa padahal dia seorang perampok.
Bagaimana mungkin seorang perampok berpuasa dan beribadah?
Fudhail menjawab, “Tidakkah Allah, Yang Maha Kuasa, berfirman,”Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka,mereka mencampurbaurkan amal kebajikan dan kejahatan. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampunan dan Maha Penyayang.”(QS. At-Taubah:102). Akhirnya perampok itu bertaubat, dan di kemudian hari menjadi seorang sufi besar.
Dari kisah sufi besar tersebut, kita mendapat pelajaran bahwa meskipun telah melakukan berbagai perbuatan dosa, kalau mau berpuasa, kita akan teretuntun untuk bertaubat, sehingga mendapat ampunan Allah SWT.
Puasa juga merupakan amalan penting di kalangan para sufi. Bagi sufi besar Junaid Al-Baghdadi (wafat. 298 H/910 M), puasa adalah separuh tarekat (jalan menuju Allah). Selain tentu saja memenuhi tuntutan syariat, juga untuk menafikan kemauan diri sekaligus menghindar dri sifat riya’.
Apalagi, puasa, yang hakikatnya adalah menahan hawa nafsu, sesungguhnya mencakup seluruh metode tarekat. Puasa kaum sufi tentu saja tidak hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan kecenderungan panca indera terhadap hal-hal yang tidak baik, terutama mengatur qalbu, sehingga semakin dekat dengan Allah SWT.
Menahan lapar dan dahaga, sudah pasti. Tapi, puasa yang bernilai tinggi ialah yang mampu menjaga mata dari pandangan yang menimbulkan gairah syahwar, menjaga telinga dari mendengarkan ucapan tidak baik tentang seseorang di belakangnya, menjafa lisan dari kata-kata buruk yang sia-sia, dan menjaga seluruh jasad dari mengikuti hal-hal duniawi yang menjauhkan dari Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW,”Ketika engkau berpuasa, biarkan pendengaranmu berpuasa, demikian pula mata, mulut, tangan, dan setiap anggota tubuhmu, sebab, banyak orang yang tidak mendapatkan apa-apa dalam puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
Dan ternyata jika tubuh dalam keadaan lapar, hal itu bisa mencerdaskan dan menyehatkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW (yang artinya), “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.”(HR. Ad Dailami). Bahkan dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan puasa menyangkut kedekatan dengan Allah SWT (yang artinya), ”Jadikan perutmu lapar dan haus, serta badanmu lemah, niscaya hatimu “melihat” Allah di dunia ini.” Meski disadari lapar merupakan penderitaan bagi jasad, keadaan yang demikian mencerahkan hati dan menyucikan jiwa, membimbing ruh untuk mendekati Allah SWT.
Andai Fir’aun lapar
Orang yang mengali nilai-nilai spiritual dengan sarana lapar, agar bisa membebaskan diri dari ikatan duniawi dan mampu mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT, niscaya tidaklah sama dengan mereka yang memenuhi jasadnya dengan kerakusan dan menghambakan diri kepada nafsu.
Benar kata pepatah, orang arif makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Manusia memang tidak lepas dari makanan, tapi kebajikan moral mensyaratkan mereka untuk tidak makan dan minum berelebihan. Dan yang paling efektif ialah berpuasa. “Orang yang berpikir tentang apa yang masuk ke dalam perut, hanya berharga seperti apa yang keluar dari perutnya.” Kata Imam Syafi’i.
Bagi sufi besar seperti Abu Yasid Al Busthami (wafat 261 H/874 M), lapar benar-benar merupakan sarana spiritual yang tinggi. Ketika ditanya mengapa dia sangat memuji lapar, jawabnya sangat mengejutkan.”Andai kata kala itu Fir’aun lapar, dia tidak akan mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi. Dan jika kala itu Qarun juga lapar, nscaya dia tidak akan menentang Allah.” katanya.
Pendapat Abu Yasid selaras dengan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia seperti darah. Maka bersihkanlah aliran darah (dari jalan setan) dengan rasa lapar.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Bukhori, dan Muslim).
Memang, semakin banyak tubuh mendapat makanan, semakin kuat kecenderungan jiwa untuk menjadi lebih rendah. Semakin cepat jiwa menjadi rendah, semakin cepat nafsu menyebar ke seluruh tubuh, sehingga melemahkan akal dan qalbu, sehingga tak mampu lagi menggapai kedekatan dengan Allah SWT. Maka ridha Allah SWT pun menjauh dan semakin menjauh. “Keinginan dan ketaatanku tergantung pada dua potong roti. Ketika makan, aku menemukan tanda-tanda dosa. Tapi ketika tidak makan, aku menemukan dasar kokoh keshalihan.” Kata Abu Al-Abbas Al-Qassab, seorang sufi besar.
Maka sufi besar lainnya, Al-Hujwiri, menyimpulkan bahwa keadaan dan rasa lapar adalah musyahadah (“menyaksikan”) Allah SWT), yang tandanya adalah mujahadah (bersungguh-sungguh). Keadaan dan rasa kenyang yang disatukan dengan musyahadah lebih baik dari pada keadaan dan rasa lapar disatukan dengan mujahadah, karena musyahadah adalah “medan perang” kaum lelaki, sementara mujahadah adalah tempat bermain anak-anak.
Itu sebabnya, sufi besar seperti Abu Sulaiman Ad-Darani berpendapat, kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar. Sebab, keadaan dan rasa kenyang dapat mendorong syahwat dan mengobarkannya, sementara lapar mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena kekuatan menahan diri terhadap godaan duniawi dengan berbagai amalan ibadah.
Banyak makan, bagi sufi besar seperti Sahal bin Abdullah, bukanlah kebiasaan manusia yang baik. Baginya, makan sekali dalam sehari adalah makannya orang-orang baik, sedangkan makan dua kali (yaitu sahur dan buka puasa) adalah makannya orang-orang mukmin. Adapun makan tiga kali sehari, katanya, “Bagaikan orang yang mendirikan tempat makan bagi hewan.”
Bisa dimaklumi jika sufi besar seperti Yahya bin Mu’adz menyatakan, “Lapar itu ibarat cahaya yang menyinari jalan kebaikan, sementara kenyang ibarat apa yang dapat membakar syahwat, yang diibaratkan sebagai kayu yang apinya membakar pemiliknya”.

Sejarah Pengajaran Al-Quran

MAJLIS TAKLIM
WADDA’WAH
LIL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS
====================================================================
SEJARAH PENGAJARAN AL-QURAN

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur-an. Kaum muslimin di belahan dunia manapun berusaha di bulan yang penuh berkah ini untuk membaca dan menghatamkan Al Quran. Masjid dan mushalla menjadi semarak dengan pengajian dan tadarus Al-Quran. Pagi, siang, sore, malam, kaum muslimin larut dalam bacaan Al-Quran. Ya, Ramadhan memang identik dengan Al-Quran. Sebab, di bulan inilah kitab suci paling utama ini diturunkan oleh Allah Ta’ala.
Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al Baqarah 185 (yang artinya):”Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.
Disamping mengkaji dan mandalami kandungan Al-Quran, tentu sangat membahagiakn jika selama Ramadhan kita bisa menghatamkan AL-Quran berkali-kali. Sebab, setiap huruf Al-Quran yang dibaca akan menghasilkan 10 kebajikan. Bisa dibayangkan, berapa jumlah pahala yang akan diperoleh jika kita menghatamkan Al Quran.
Apalagi di bulan Ramadhan, ketika setiap kebajikan yang dilakukan pahalanya dilipatgandakan berpuluh bahkan beratus kali lipat. Belum lagi ditambah keistimewaan yang dijanjikan Rasulullah SAW atas orang yang menghatamkan Al-Quran doanya saat hataman diamini 50.000 malaikat. Sungguh luar biasa!.
Namun, untuk menghatamkan Al-Quran tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selain harus mengenal dengan baik huruf-huruf Hijaiyah, tentu juga dibutuhkan ketrampilan tersendiri agar dapat membaca Al-Quran secara tartil alias baik, benar, dan lancar.
Sebutan “bacaan yang baik” memiliki banyak aspek. Selain etika dalam membaca Al-Quran, kata “baik” juga menyangkut sikap terhadap Al-Quran. Dalam membaca Al-Quran, seorang muslim tak sekadar menetapi prasyarat seperti suci badan, pakaian, dan tempat, tappi juga berusaha menyucikan hati dan perasaan. Agar, saat membaca Al-Quran, yang muncul di hati adalah perasaan cinta dan penuh kerinduan kepada Sang Pemillik Al-Quran.
Karena Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah), membacanya berarti berdialog dengan Allah SWT. oleh karena itu kita hendaknya membacanya secara baik dan benar, sehingga dapat merasakan bahwa setiap rangkaian hurufnya merupakan untaian syair cinta dari Sang Khaliq yang penuh hikmah dan kedalaman untuk makhluk-Nya.
Adapun ungkapan “benar” terkait masalah tajwid, yaitu hukum bacaan Al-Quran. Benar dalam membaca Al-Quran berarti benar dalam mengucapkan huruf sesuai makhraj (pengucapan, palafalan), benar dalam memanjang-pendekkan bacaan sesuai madnya, dan benar dalam mendenung-tidakkan sambungan huruf sesuai hukum bacaannya. Benar juga berarti harus tahu bagian bacaan mana yang boleh berhenti (waqaf) dan lanjutnya (wasal), atau berhenti tapi tidak boleh mengambil nafas (saktah).
Sementara sebutan “lancar” dalam membaca AL-Quran menyangkut ketekunan dalam berlatih membaca. Semakin sering membaca Al-Quran, akan semakin mengalir dan merdu pula irama bacaan kita. Semakin lancar kita membaca Al-Quran, semakin cepat pula proses penghatamannya. Dan semakin cepat khatam dan mengulangnya lagi dari awal, semakin banyak pula kesempatan kita memperoleh pahala khataman Al-Quran.
Dalam rangka mendidik umat Islam agar mampu membaca Al-Quran dengan baik, benar, dan lancara itulah, para ahli Quran (sebutan bagi mereka yang menguasai rahasia Al-Quran) membuka pengajaran membaca Al-Quran. Dua-duanya, baik yang belajar maupun yang mengajar Al-Quran, disebut Nabi sebagai “umat terbaik”. Diriwyatkan dari Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda, “Yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.”(HR. Abu Ubaid).

Tatap Muka dengan Jibril
Sejak kapan proses pengajaran Al-Quran berlangsung? Siapa guru-murid pertama dalam ta’limul Quran ini? Bagaimana perkembangan pengajaran Al-Quran dari masa ke masa? Sebagai firman Allah Ta’ala, yang pertama kali mengajarkan Al-Quran adalah Allah SWT sendiri, kepada Malalikat Jibril. Kapan waktu pengajaran AL-Quran yang pertama kali ini, hanya Allah jualah yang Maha Mengetahui.
Dari Malaikat Jibril, kemudian Al-Quran disampaikan, atau diajarkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW secara talaqqi. Sistem talaqqi, yang juga lazim disebut mushafahah, adalah metode pengajaran di mana guru dan murid berhadap-hadapan secara langsung, individual, tatap muka, face to face.
Tak hanya mengajarkan ayat-ayat baru, secara rutin Malaikat Jibril juga mengunjungi Nabi untuk memeriksa hafalan dan bacaan beliau. Diriwayatkan oleh Sayyidah Fatimah Az-Zahra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Jibril mengajariku membaca Al-Quran setahun sekali. Dan tahun ini ia telah membacakan Al-Quran dua kali padaku. Aku menduga, ini pertanda ajalku sudah dekat”.(HR. Bukhari).
Kunjungan Jibril diperlukan, sebab ayat-ayat Al-Quran tidak diturunkan sekaligus dalam urutan seperti yang sekarang termaktub dalam mushaf Al-Quran. Al-Quran turun secara berangsur-angsur selama masa kenabian beliau, dengan urutan yang acak sesuai asbabun nuzul (sebab turunnya suatu ayat) sebagaimana telah ditakdirkan Allah SWT. Ayat Al-Quran yang pertama kali turun, yakni ayat 1-5 Surah Al’Alaq, kini menempati urutan surah ke 96 dari jumlah 114 surah yang diturunkan.
Metode Talaqqi dalam pengajaran ayat-ayat yang belum dihafal, dan pengulangan hafalan untuk menguatkan dan melancarkan sebagaimana dicontohkan oleh Malaiakt Jibril dan Rasulullah SAW, itulah yang kemudian menjadi cetak biru (blue print) sistem pengajaran Al-Quran di dunia Islam hingga kini. Di Indonesia, metode talaqqi dikenal dengan sebutan sistem sorogan Al-Quran, untuk membedakannya dengan sorogan kitab kuning.
Murid angkatan Pertama
Tradisi Jibril membacakan ayat-ayat Al-Quran secara rutin kepada Nabi SAW, dan memeriksa bacaan secara urutan ayat dan surah yang beliau hafal, kini menjadi tradisi di pesantren-pesantren Al-Quran di Jawa, dan disebut takriran atau nderes.
Ada juga tradisi sema’an, yaitu seorang hafizh (penghafal Al-Quran) menjaga hafalannya dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran di hadapan orang banyak yang menyimaknya sambil membuka mushaf Al-Quran untuk memeriksa kebenaran bacaan tersebut.
Setelah dua fase pertama – dari Allah ta’ala kepada Malaikat Jibril, dan dari Jibril kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur – dimulailah pengajaran Al-Quran secara umum kepada umat manusia. Urutan orang-orang yang belajar Al-Quran sama persis dengan urutan orang-orang yang masuk Islam. Sebab, ketika menyatakan keislaman, saat itu pula mereka langsung mempelajari ayat demi ayat Al-Quran.
Orang pertama yang belajar dan menghafal ayat-ayat suci Al-Quran setelah Baginda Nabi adalah Sayyidah Khadijah. Lalu disusul oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi), Abu Bakar Shiddiq (sahabat terdekat Nabi), Zaid bin Haritsah (pembantu keluarga Nabi). Abu Bakar kemudian membawa teman-teman dekatnya untuk masuk Islam dan mempelajari Al-Quran. Antara lain, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.
Mereka itulah murid angkatan pertama madrasah Al-Quran yang didirikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka pulalah yang pertama kali merasakan sentuhan sistem pendidikan kenabian yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Melalui qalbu yang bersih angkatan pertama umat Islam inilah, cahaya Al_Quran memancar menerangi alam semesta. Sungguh mereka sangat beruntung.
Ketika jumlah umat Islam di Makkah semakin bertambah, Rasulullah mulai membagi tugas mengajarkan Al-Quran kepada beberapa sahabat yang dipandang memiliki kemampuan lebih. Dalam kitab Thabaqat, karya Ibnu Sa’ad, As-Siyar wal Maghari, karya Ibnu Ishaq, At-Taratib Al-Idariyah, karya Kattani, dan Sirah Ibnu Hisyam, tercatat nama beberapa sahabat yang pernah ditugasi oleh Baginda Nabi untuk mengajar Al-Quran.
Para sahabat yang beruntung itu adalah Abdullah bin Mas’ud, yang mengajar secara umum di Makkah, Khabbah yang mengajar pasangan suami-istri Fatimah bin Khaththab dan Sa’id bin Zaid, dan Mush’ab bin Umair, yang diperintahkan oleh Baginda Nabi untuk mengajarkan Al-Quran kepada penduduk Madinah beberapa waktu sebelu hijrah. Ada juga nama Rafi’ bin Malik Al-Anshari yang disebut-sebut sebagai sahabat yang pertama kali membawa surah Yusuf ke Madinah, sebelum masa hijrah.
Karena melalui utusan-utusan terpilih, pengajaran Al-Quran dengan sistem pendelegasian itu pun berhasil dengan gemilang. Ketika hijrah ke Madinah, misalnya, Rasulullah SAW diperkenalkan dengan Zaid bin Tsabit, anak berusia 11 tahun yang ketika itu telah menghafal 16 surah Al-Quran. Belakangan, remaja cerdas itu semakin dekat dengan Baginda Nabi, karena dipercaya menjadi salah seorang pencatat wahyu.
Setelah pembangun Masjid Nabawi usai, Rasulullah SAW memerintahkan pembangunan suffah, semacam beranda di samping masjid, dan menjadikannya sebagai pusat pengajaran Al-Quran, sekaligus tempat belajar baca tulis kaum muslimin. Tak kurang dari 900 sahabat mendaftar sebagai murid di suffah tersebut.
Selain Rasulullah SAW yang mengajar Al-Quran, beberapa sahabat lain seperti Abdullah bin Sa’id bin Al-‘Ash, Ubadah bin Ash-Shamit, dan Ubay bin Ka’ab, membantu mengajar AL-Quran dan baca tulis untuk para sahabat yang masih buta huruf. Pengajaran di suffah itu sangat istimewa, karena ditangani langsung oleh baginda Nabi SAW. Abdullah bin Umar memberi gambaran cara Nabi mengajar, “Beliau membacakan Al-Quran kepada kita, setiap kali sampai pada ayat sajdah, yang menyuruh bersujud, beliau mengucap takbir, lalu bersujud.”(HR. Muslim)
Dalam kitab Al-Intishar, karya Al-Baqillani, dikisahkan, Utsman bin Abil’Ash menceritakan, ia selalu ingin mengaji langsung kepada Rasulullah SAW. Jika sedang tidak bisa menemui beliau, Utsman mendatangi rumah Abu Bakar Shiddiq.
Abdullah bin Mughaffal mengisahkan, jika ada orang baru masuk Islam hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW menyuruh salah seorang Anshar menampung di rumahnya dan mengajarinya Al-Quran serta pengetahuan keislaman lainnya.
Dalam kitab Fadhail diriwayatkan oleh Abu Ubaid, para sahabat juga sering berkumpul di masjid untuk saling bertukar ilmu dan mengajarkan ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya.
Selain para sahabat di Madinah, juga ada beberapa sahabat ahlul Quran yang dikirim oleh Baginda Nabi ke berbagai daerah untuk mengajar. Misalnya, Mu’adz bin Jabbal, yang dikirm ke Yaman, Abu Ubaid, diutus ke Najran, dan Wabra bin Yuhanna ditugasi ke Shan’a.
Pada masa pemerintahan Khalifah Abu bakar Shiddiq, pengajaran Al-Quran diteruskan oleh para sahabat utama. Saat itu di Madinah dan Makkah saja terdapat ratusan penghafa Al-Quran, yang setiap saat siap membagi pengetahuan mereka. Namun, dalam perang untuk menumpas nabi palsu di Yamamah, hampr ssepertiga dari ratusan penghafal Al-Quran itu gugur sebagai syahid. Peristiwa inilah yang kemudian melatarbelakangi pembukuan Al-Quran ata perintah Khalifah pertama, Abu Bakar Shiddiq.
Para penghafal Al-Quran yang tersisa kemudian menurunkan ilmu kepada generasi berikutnya, baik yang tingal di Madinah dan Makkah maupun di kota dan negeri-negeri lain yang baru dibebaskan oleh kaum muslimin. Di antara mereka bahkan ada yang berkelana hingga jauh ke timur, seperti Sa’ad bin Abi Waqash, yang mengembara hingga ke Cina.
Qira'ah Sab’ah
Karena tempat pengajaraannya tidak lagi terpusat di Madinah, belakangan muncul beberapa kesalahan bacaan yang dilakukan oleh murid-murid sahabat yang tinggal jauh dari Makkah dan Madinah. Karena dianggap membahayakan, Khalifah Utsman bin Affan dan para sahabatnya berinisiatif membakukan penulisan dan ejaan Al-Quran dalam dialek Quraiys, Utsman pun membentuk tim beranggotakan 12 orang, dipimpin oleh Zaid bin Tsabit.
Dari hasil kerja tim tersebut, lahirlah mushaf dengan rasm (ejaan) Utsmani yang menjadi panduan baku dalam penulisan Al-Quran. Seluruh mushaf yang berbeda dengan mushaf Utsmani dimusnahkan, untuk menghilangkan potensi perbedaan di kemudian hari. Al-Quran rasm Utsmani itu pula yang kemudian diajarkan secara turun-termurun kepada umat Islam hingga saat ini.
Dari hasil didikan para sahabat tersebut, bermunculan ulama ahlul Quran dari kalangan tabi’in, seperti Muslim bin Jundub, yang belajar dari Abdullan bin Abbas dari Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin SA’ib Al-Mazumi, yang mendapat pengajaran Al-Quran dari Ubay bin Ka’ab dan Umar bin Khaththab, Hasan Al-Bashri, yang mendapat pengajaran AL-Quran dari Abu Aliyah dari Umar bin Khaththab; Al-Mughirah bin Abi Syihab Al-Makhzumi, yang mempelajarinya dari Utsman bin Affan; Abdullah bin Hubaib Al-Silmi, yang mendapatkannya dari lima sahabat besar ahlul Quran, yaitu Ibn Mas’ud, Utsman, Ali, Ubay, dan Zaid bin Tsabit; dan masih banyak lagi.
Meski ejaan Al-Quran telah diseragamkan, dalam praktek pengajarannya setelah era sahabat muncul perbedaan qiraat (dialek, pengucapan, lafadz) dalam Al-Quran. Berbeda dengan kasus perbedaan ejaan pada masa Khalifah Utsman, perbedaan dialek tidak menyebabkan perbedaan makna atau perubahan ejaan, bahkan kemudian tumbuh menjadi kekayaan khazanah keilmuan Islam.
Belakangan, meski berkembang menjadi 10 qiraat (ada yang berpendapat 12 dan 20 qiraat), ada tujuh dialek (qiraat sab’ah) yang paling populer dan hingga kini terus dipelajari. Masing-masing qiraat kemudian dikenal dengan nama para imam besar dikalangan tabi’ut tabi’in dan generasi sesudahnya yang mengajarkannya.
Mereka adalah Imam Nafi’ bin Nu’aim, lahir di Madinah, 70 H, dan wafat di Isfahan pada 169 H, mempunyai sanad Al-Quran yang bersambung sampai kepada Rasulullah SAW melalui Abdurrahman bin hurmuz dari Muslim bin Jundub; Imam Abdullah ibn Katsir Al-Makki (45-120 H), sanadnya melalui Abdullah bin Saib Al-Mazumi; Imam Abu Amr bin Al-Ala (68-154 H), sanadnya melalui Hasan Al-Bashri; Imam Abdullah bin Amir Al-Yahsubi (21-118 H), sanadnya melalui Al-Mughirah bin Abi Syihab; Imam ‘Ashim bin Abin Nujud Al-Asadi Al-Kufi (wafat 127 H), sanadnya melalui Abdullah bin Hubaib As-Silmi; Imam Hamzah bin Habib Al-Kufi (80-156 H), sanadnya melalui Sulaiman bin Himran dri Yahya bin Wasab; dan Imam Ali bin Hamzah Al-Kisai (119-189 H), guru mengaji keluarga Harun Ar-Rasyid, sanadnya bertemu dengan Imam ‘Ashim melalui Hamzah, dari Isa bin Umar.
Disadur dengan sedikit perubahan dari majalah al-Kisah no.19/Tahun VI/2008

























Tuesday, July 15, 2008

RAJAB BULAN ISTIGHFAR

MAJELIS TAKLIM WADDA'WAH
LIL USTADZ HABIB SHOLEH BIN ACHMAD ALAYDRUS


RAJAB BULAN ISTIGHFAR

Hari ini kita telah berada pada tanggal 1 Rajab 1429 H. itu berarti kita telah memasuki bulan yang penuh dengan keutamaan, kemuliaan dan penghormatan. Bulan yang sangan tepat untuk memperbanyak amal ibadah dan istighfar guna memasuki bulan Sya’ban dan persiapan menyambut Ramadhan.

Ibarat menanam tanaman, Rajab adalah bulan kita menanam benih-benihnya, Sya’ban kita menyirami dan memupuknya, sedang Ramadhan kita memanen hasilnya. Itulah keterkaitan tiga bulan tersebut. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Imam Abu Bakar Al Warraq Al Balkhi. Beliau juga berkata, “Perumpamaan Rajab seperti angin, Sya’ban seperti awan (mendung)nya dan Ramadhan ibarat hujannya”.

Rajab tergolong salah satu dari Al Asyahrul Hurum, bulan-bulan penuh kehormatan dan kemuliaan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW.

Diantara kemuliaan yang ada di dalam bulan Rajab, adalah terkabulnya doa-doa hamba di dalamnya, terutama pada malam pertamanya, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda (yang artinya): “Lima malam, tidak akan ditolak doa-doa didalamnya: awal Rajab, malam nisfu Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam an Nahr(Idul Adha)”.(HR. Ibnu ‘Asakir)

Rajab adalah bulan Allah SWT yang dituangkan di dalamnya rahmat kepada hamba-hambaNya. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):

“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadahan bulan umatku”(Hadits mursal dari Al Hasan AL Bashri)

dengan berdasarkan hadits di atas, maka sebagian Ulama’ menyebutkan bahwa Rajab adalah bulan istighfar dan taubat kepada Allah sesuai dengan istilah ‘Rajab bulan Allah’. Sebagai hamba Allah, hendaknya di bulan Allah ini kita banyak bertaubat kepadaNya, kembali kepadaNya dan meminta maaf sepenuh hati ke hadirat Ilahi, agar benar-benar diampuni dan didekatkan kepadaNya.

Sedangkan Sya’ban sebagai bulan Nabi Muhammad SAW, maka sepantasnya dan layak untuk kita memperbanyak sholawat dan salam kepada beliau SAW dil bulan ini. Adapun Ramadhan seperti kita ketahui adalah bulan yang didalamnya diturunan Al Qur-an, maka hendaknya seorang hamba mengisi waktunya selama Ramadhan dengan banyak membaca AlQur-an disamping ibadah-ibadah yang lain.

Dalam kitab An Nafahat An Nuraniyyah, Syeikh Yusuf Khattar menyebutkan bahwa bulan Rajab memiliki 14 nama, dan banyaknya nama tersebut cukuplah menunjukkan kemuliaan dan kehormatannya. Nama-nama tersebut adalah: Rajab, Syahrullah (bulan Allah), Rajab Mudhar, Munshilul Asinnah, Al Ashom, Al Ashob, Munaffis, Muthahhir, Ma’alla, Muqim, Harim, Muqasyqisy, Mubarri’ dan Rard.

Selain istighfar, ibadah yang dianjurkan dilakukan di bulan Rajab adalah berpuasa, sekalipun tidak ada hadits khusus yang menyebutkan tentang keutamaan puasa di bulan Rajab ini secara khusus, tetai sudah termasuk dalam keumuman sunnahnya berpuasa pada Al Asyahrul Hurum, sebab Rajab termasuk Al Asyahrul Hurum.

Diriwayatkan dari ‘Urwah dia bertanya kepada Abdullah bin Umar,”Apakah Rasulullah SAW berpuasa di bulan Rajab?”, Ibnu Umar menjawab, “Benar dan beliau SAW memuliakannya”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Paling sedikit puasa di bulan Rajab satu hari, yakni di hari pertama. Puasa dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulia lainnya, hukumnya sunnah. Diriwayatkan dari Mujibah Al Bahiliyah dari ayahnya, Rasulullah bersabda (yang artinya): Berpuasalah kalian di bulan-bulan haram atau tinggalkan (puasa).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Achmad).

Sedangkan kita sudah mengetahui bahwa Rajab termasuk bulan-bulan haram (Al Asyhurul Hurum). Maka hadits tersebut di atas secara umum juga menunjukkan kesunahan puasa di bulan Rajab.

Diriwayatkan pula dari Abu Qilabah, seorang pembesar Tabi’in, beliau berkata,”Di surga terdapat sebuah istana yang diperuntukkan bagi orang-orang yang puasa di bulan Rajab”. Perihal Abu Qilabah, Imam Baihaqi berkata,”Beliau adalah pembesar Tabi’in, tidaklah beliau menyampaikan sesuatu kecuali karena mendengar generasi di atasnya (para sahabat)”.

Maka dari itu tersebutlah beberapa ulama salaf yang melakukan puasa Rajab sebulan penuh seperti Imam Abdullah bin Umar, Hasan Al Bashri, Abu Ishaq As Sabi’iy dan lainnya.

Lain lagi dengan Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Sa’id Al Anshori beliau tidak menyukai berpuasa sebulan penuh dalam bulan Rajab karena ada keterangan dari sahabat Abdullah bin Abbas bahwa beliau tidak senang jika Rajab dipakai puasa sebulan penuh. Oleh karenanya untuk menghindari hal tersebut, kata Imam Ahmad bin Hambal :”Hendaknya seseorang tidak puasa satu atau dua hari di bulan Rajab”.

Hal ini rupanya sejalan dengan pendapat Imam Asy Syafi’i, beliau berkata:

Aku tidak suka jika seseorang berpuasa sebulan penuh seperti dia berpuasa Ramadhan. Alasannya adalah jangan sampai perbuatannya tadi diikuti oleh masyarakat awam (yang jahil) sehingga dikhawatirkan mereka akan menyangka bahwa hal itu hukumnya wajib. Dan akan hilang kemakruhan mengkhususkan Rajab dengan puasa tersebut, jika digabung dengan puasa sunnah lainnya, seperti puasa Rajab sebulan penuh dan dilanjutkan dengan puasa Sya’ban. (maka yang demikian tidaklah makruh)”.

Hadits lain yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Rajab, antara lain, Imam Ath Thabarani meriwayatkan dari Sa’id bin Rasyid, Rasulullah SAW bersabda, (yang artinya):

Barang siapa berpuasa sehari di bulan Rajab, laksana ia puasa setahun. Bila berpuasa tujuh hari, ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam. Bila berpuasa delapan hari, dibukakan untuknya delapan pintu surga. Bila berpuasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya..”

meski begitu, menurut Imam Suyuthu dalam al Haawi lil Fataawi, hampir semua hadits tentang puasa Rajab tersebut berstatus Dha’if (kurang kuat). Akan tetapi hadits dha’if sebagaimana disepakati Ulama ahli hadist, dapat digunakan untuk memotivasi diri dalam fadhailul A’mal (mengerjakan amal-amal kebajikan), selagi tidak terlalu berat ke-dha’ifan-nya atau tidak ada dalam sanadnya seorang rawi yang suka berdusta atau dituduh suka berdusta.

Ada lagi satu amalan yang hendaknya kita ikuti dari Rasulullah, yaitu berdoa di bulan Rajab sebagaimana telah beliau ajarkan. Dari sahabat Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah SAW jika telah memasuki bulan Rajab beliau banyak berdoa: Allohumma baarik lana fii Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan ( yang artinya: ya Allah berikanlah keberkahan buat kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan).

Thursday, May 29, 2008

Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah

Edisi Jum’at : 9 Maret 2008


MAJELIS TAKLIM

WADDA'WAH

W A D D A ' W A H



LIL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS

Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin ‘Amr RA, Rasulullah SAW. bersabda (yang artinya): ”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah seorang wanita sholehah”. Dan hal ini benar-benar terwujud dalam kehidupan rumah tangga beliau SAW, karena Allah telah memilih untuk Rasulullah istri yang amat sholehah dan mulia, dialah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Perkawinan dengan Sayyidah Khadijah RA (556-620 M) menjadika Nabi Muhammad SAW sebagai kepala keluarga yang berdiri sendiri, tidak seperti sebelumnya, beliau harus mengikuti pengasuhnya: ibunya, kakeknya, dan terakhir pamannya. Saat itu beliau tingga serumah dengan istrinya dan membentuk mahligai keluarga yang tenang dan terteram, penuh kasih sayang serta persatuan yang padu

Meski umur mereka berbeda, seorang perjaka mengawini janda umur 40 tahun dengan beberapa anak, ini justru melahirkan perkawinan yang ideal. Nabi Muhammad mengawini Sayyidah Khadijah karena budi pekertinya yang luhur. Dan pilihan kepada Sayyidah Khadijah tentu tidak terlepas dari ketentuan dan pilihan Allah.

Sayyidah Khadijah adalah wanita Quraisy yang nasabnya paling terhormat, paling kaya, dan cerdas, selain cantik dari segi fisik dan akhlaqnya. Disamping itu, ia juga memiliki sifat-sifat yang mulia. Semua kelebihan itu terkumpul pada dirinya.

Ayahnya bernama Khuwailid, salah seorang tokoh suku Quraisy yang sangat dihormati. Sedangkan ibunya adalah Fathimah, yang nasabnya bersambung kepada silsilah para nabi yang penuh berkah. Oleh sebab itu, Sayyidah Khadijah adalah istri yang nasabnya paling dekat kepada Nabi SAW.

Sayyidah Khadijah sempat mengikuti perkembangan terakhir zaman Jahiliyah. Pada waktu itu ia memiliki kedudukan yang terhormat di kalangan kaumnya, cantik dan berbudi mulia. Pada zaman Jahiliyah, ia dipanggil At Thahirah(Wanita Suci), karena kesucian jalan hidup dan perilakunya. Dia sangan terkenal di kalangan wanita Quraisy karena otaknya yang cemerlang, pendapatnya yang sangat bagus, dan hatinya yang bersih.

Pertama kali, dia dipersunting oleh Atiq bin ‘Abid, tapi tidak lama kemudian ‘Atiq meninggal dunia. Kemudian dia dinikahi oleh seorang tokoh lain, Abu Halah bin Zararah At-Tamimi, dan dianugerahi seorang putra bernama Hindun. Tidak lama setelah itu suaminya pun meninggal dunia.

Kemudian Sayyidah Khadijah menjadi incaran para pemuda dan pemuka Quraisy. Namun Allah memberikan karunia kepadanya untuk menjadi istri Nabi Muhammad.

Sayyidah Khadijah menunjukkan sikap wanita yang sangat dihormati, mencintai dan bersikap jujur terhadap suami. la memperlakukan suaminya dengan sangat baik dan mengangkat harkatnya. Dengan sekuat tenaga, Sayyidah Khadijah membantu dan melaksanakan seluruh kewajibannya sebagai seorang istri dengan sangat setia.

Rasulullah sangat menghormatinya. Sayyidah Khadijah memperoleh kedudukan yang sangat terhormat dalam diri dan hati Rasulullah. Tidak henti­-hentinya beliau mengakui kelebihan Sayyidah Khadijah, sehingga belum pemah terbetik sekali pun dalam hati beliau untuk menikahi wanita lain selama hidup berdampingan dengannya.

Wanita Islam Pertama '

Ada masa berkesan ketika Rasulullah menerima wahyu yang pertama di Gua Hira'. Hampir selama empat puluh hari Rasulullah bertahanuts (menyendiri) di Gua Hira'. Sayyidah Khadijah mempersiapkan keperluan untuk suaminya. Setiap kali keperluan itu habis, ia menyiapkan penggantinya.

Ketika turun wahyu melalui perantaraan Malaikat fibril, Rasulullah kembali kepada sang istri dengan muka pucat pasi.

"Selimuti aku! Selimuti aku!"

Kemudian Sayyidah Khadijah menutupi tubuh beliau dengan selimut hingga rasa takut itu hilang. Setelah itu beliau menceritakan kepada Sayyidah Khadijah apa yang telah terjadi. "Aku takut sesuatu akan terjadi.padaku.."

Sayyidah Khadijah berkata kepada beliau untuk menghiburnya, "Demi Allah, aku gembira. Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang mau menyambungkan tali silaturahim, berbicara benar, memberi orang yang tidak punya, menyampaikan amanat, menghormati tamu, dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang ditimpa kemalangan."

Setelah itu, Sayyidah Khadijah pergi menemui anak pamannya, Waraqah bin Nawfal, seorang Nasrani yang telah membaca berbagai kitab suci, terutama Taurat dan Injil. Kepada Waraqah, Sayyidah Khadijah menceritakan pengalaman suaminya itu.

Waragah membenarkan bahwa sosok yang datang kepada suaminya adalah Malaikat Jibril, dalam istilah waktu itu adalah Namus. Karena itulah, Sayyidah Khadijah langsung menyatakan keislamannya kepada Nabi Muhammad SAW. Dia adalah wanita pertama yang masuk Islam.

Sayyidah Khadijah berusaha meringankan beban suaminya dalam berdakwah secara sembunyi atau terang-terang. la bersabar atas hinaan dan cercaan kepada suaminya. la juga cukup menderita karenanya, tetapi ia sabar dalam menerima cobaan itu, tidak pernah mengeluh. Berbagai ujian dan cobaan itu sedikit pun tidak mempengaruhi ketenteraman hidup rumah tangganya.

Cara hidup Sayyidah Khadijah merupakan teladan bagi kaum wanita. la adalah wanita shalihah, penyabar, pandai bersyukur, bahkan bersedia mengorbankan harta dan jiwanya demi suaminya ketika menghadapi berbagai cobaan.

Hadits tentang Sayyidah Khadijah

Di dalam sebuah riwayat disebutkan, Jibril berkata, "Wahai Muhammad, aku titip salam buat Khadijah dari Tuhannya "

Maka Nabi SAW bersabda, "Wahai Khadijah, ini Jibril yang membawa titipan salam untukmu dari Tuhanmu."

Sayyidah Khadijah menjawabnya dengan jawaban yang sangat bagus, "Allah adalah keselamatan (as-salam), dari-Nya pula keselamatan itu. Juga kuucapkan salam kepada Jibril AS."

Abu Hurairah meriwayatkan, Jibril berkata kepada Nabi SAW, "Beri tahukan kepada Khadijah bahwa di surga ia memiliki sebuah rumah yang terbuat dari bambu, yang tidak berisik dan tidak ramai:"

Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan, apabila menyebutkan nama Sayyidah Khadijah, Rasulullah selalu memujinya dengan pujian yang sangat bagus. Hal itu membuat Sayyidah Aisyah merasa cemburu kepadanya

"Alangkah banyak apa yang kau ingat tentang si Pipi Merah itu, padahal engkau telah mendapatkan gantinya yang lebih baik daripada dia, "katanya suatu hari.

"Allah belum memberikan gantinya kepadaku yang lebih baik daripada dia. la telah beriman kepadaku ketika semua orang ingkar kepadaku. la telah membenarkanku ketika semua orang membohongkan aku. la telah memberikan semua hartanya kepadaku ketika orang memboikotku. la telah memberikan anak laki-laki kepadaku ketika semua istriku tidak memberikannya, jawab Rasulullah.

Masih dari riwayat yang dituturkan oleh Sayyidah Aisyah. Sayyidah Aisyah berkata, "Rasulullah kerap kali menyebut-nyebut Sayyidah Khadijah. Kemudian aku berkata kepadanya, 'Allah telah menjadikan aku sebagai pengganti wanita tua Quraisy yang merah pipinya itu.'

Mendengar itu, wajah Rasulullah SAW merah padam. "Belum pernah aku melihat sebelumnya kecuali pada saat ada wahyu yang turun. Jika Rasulullah sudah begitu, dapatlah dibedakan apakah ia sedang mendapatkan kesenangan atau kesedihan."

Ibnu Abbas RA menuturkan, Rasulullah SAW membuat empat garis. "Tahukah kalian, apakah ini?" tanya Rasulullah.

"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui," jawab sahabat.

"Wanita penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah bind Khuwailid, Fathimah binti Mohammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah istri Fir'aun; " sabda Nabi.

Sayyidah Khadijah mendampingi Nabi Mohammad selama dua puluh empat tahun. Hingga tiba saatnya wanita mulia itu menghadap Sang Khaliq, tiga tahun sebelum Hijrah, pada bulan Ramadhan, di AI-Hajun, dalam usia enam puluh tahun. Rasulullah sendiri yang turun ke liang lahatnya. Beliau tampak begitu sedih.

Putra-putri Rasulullah

Dari Sayyidah Khadijah, Nabi dikarunia enam anak. Yakni, Qasim danAbdullah, kedua anak lelaki ini meninggal sewaktu masih kecil. Karena itulah, sebelum umat Islam dilarang memanggil nama asli Nabi, mereka memanggilnya "Aba Qasim" (bapaknya Qasim)­

Sebuah hadits shahih menyebutkan, Nabi bersabda, "Namailah diri kalian dengan namaku, tetapi jangan berkun-yah dengan kun-yahku. Hanya akulah Qasim (pembagi). Aku membagi di antara kalian." (HR Muslim). Maksudnya, apabila ada seorang ayah yang memiliki anak tertua lelaki bernama Qasim, tidak boleh meminta dirinya dipanggil Aba Qasim, sebagaimana Rasulullah. Atau, lebih baik nama Qasim itu untuk anak nomor dua dan seterusnya.

Kemudian disusul keempat anak lainnya, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah Az­ Zahrah. Sayyidah Zainab lahir ketika usia Rasulullah genap tiga puluh tahun. Setelah dewasa, is menikah dengan anak bibinya, Abu Al-'Ash bin Al-Rabi', sebelum masa kenabian Nabi Mohammad. Pasangan ini dikarunia dua putra, Ali dan Umamah. Umamah pada saatnya dinikahi Ali bin Abi Thalib RA. Zainab meninggal di Madinah pada tahun kedelapan Hijrah.

Sayyidah Ruqayyah lahir pads saat Rasulullah SAW berusia tiga puluh tiga tahun. Setelah dewasa, ini dinikahi'Utbah binAbu Lahab.

Ketika turun surah Al-Lahab, Abu Lahab, memerintahkan anaknya menceraikan istrinya. Kemudian Ruqayah dinikahi Ustman bin Affan RA di Makkah. Pasangan ini dikaruniai seorang anak bemama Abdullah, tetapi beberapa hari kemudian meninggal dunia karena sakit. Putri ketiga Nabi ini meninggal setahun sepuluh hari setelah peristiwa Hijrah.

Sayyidah Ummu Kultsum lahir beberapa tahun setelah Sayyidah Ruqayah. la dinikahi oleh Utaybah bin Abu Lahab, tapi mengalami nasib sama, diceraikan oleh anak Abu Lahab itu. Setelah Ruqayah meninggal, Sayyidah Ummu Kultsum dinikahkan dengan Ustman bin Affan RA atas perintah dan wahyu dari Allah. la tidak mempunyai anak, dan meninggal pada tahun kesembilan Hijriyah.

Yang terakhir, Sayyidah Fathimah, lahir ketika Nabi berusia tiga puluh lima tahun. la menikah dengan Ali bin Abi Thalib RA pada tahun dua Hijriyah, pada waktu itu umurnya sembilan belas tahun. Pasangan ini dikaruniai lima putra. Yaitu, Hasan, Husin, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab. Muhsin meninggal dunia ketika masih kecil. Sayyidah Fathimah meninggal pada malam Selasa, 3 Ramadhan 11 H, pada usia dua puluh delapan tahun. Jenazahnya dikuburkan di Baqi', dishalatkan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Sayyidah Fathimah meninggal setelah enam bulan Rasulullah menghadap Yang Mahakuasa.

KISAH DAN HIKMAH

Asiah binti Muzahim

Banyak sekali contoh mengenai sosok wanita ideal yang dijamin masuk surga. Di antaranya adalah yang disebutkan Rasulullah SAW, "Sebaik-baik wanita surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam, dan Asiah." (HR Baihaqi). Mereka bukan sembarang wanita, karena begitu banyak sisi kehidupan mereka yang diabadikan oleh sejarah.

Asiah bind Muzahim dialah salah seorang wanita beriman yang dijamin masuk surge, bahkan menjadi salah satu di antara pemimpin para wanita di surga, meski ketika di dunia ditakdirkan menjadi pendamping Fir’aun yang dhalim.

Ketika masih gadis, Asiah merupakan bunga di kotanya. Bahkan kecantikannya terkenal sampai ke penjuru kota. Ketika mendengar hat itu, Fir'aun segera melamarnya untuk dijadikan permaisuri.

Sifat Asiah, yang lemah lembut, rendah hati, sungguh amat kontradiktif dengan sifat Fir'aun, yang kasar, sombong, kejam, dan selalu mempunyai keinginan berlebih untuk disanjung dan dihormati. Bahkan ia mengaku sebagai tuhan, dan seluruh rakyat diperintahkan menyembahnya.

Setelah menjadi permaisuri, Asiah adalah wanita yang paling dekat dan sangat dicintai Fir'aun. la bahkan mendapatkan perkecualian dari hukum Fir'aun yang sangat kejam. Hal ini terbukti saat sang permaisuri mengangkat anak seorang bayi laki-laki yang diambil dari sebuah peti dari Sungai Nil. Padahal, ketika itu Fir'aun memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki yang lahir di seantero Mesir.

Bayi itu kemudian diberi nama Musa. Dan lewat anak angkatnya inilah, suatu ketika Asiah beriman kepada Allah Ta'ala. Asiah hidup di dalam istana Fir'aun, yang begitu ditakuti rakyatnya. Bukan hanya itu, orang-orang terdekat suaminya adalah penjilat dan pejabat tamak_ Pam penyihir Fir'aun jugs selalu mengamini keinginannya. Dalam lingkungan demikianlah, Asiah harus mempertahankan keyakinannya

Pada suatu hari, Asiah diajak Fir'aun untuk menyaksikan adu kekuatan antara Musa dan tukang-­tukang sihir yang kesohor di negerinya. Seluruh rakyat pun diundang, karena Fir'aun yakin. bahwa Musa akan kalah.

Hati Asiah tersekat ketika tukang sihir Fir'aun melemparkan tali-tali yang dipegangnya. Seketika itu pula, tali-tali itu berubah menjadi ular yang amat banyak_

Tapi, hati Asiah menjadi lega ketika melihat ketenangan yang luar biasa terpancar dan wajah anak angkatnya itu. Tak sedikit pun Musa merasa gentar, karena ia telah mendapat mukjizat dari Allah. la menjatuhkan tongkat yang sedang dipegangnya. Dan ajaib, tongkat itu berubah menjadi ular besar yang kemudian memakan ular-ular para tukang sihir itu.

Dalam hati Asiah amat senang. Sebaliknya dengan Firaun, ia murka sejadi-jadinya, apalagi saat tukang-tukang sihir itu berbalik arah, beriman kepada Tuhannya Musa.

Ditatapnya permaisurinya yang cantik itu dengan tatapan yang menusuk hati.

"Apakah engkau menyaksikan hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang tidak mengakui aku sebagai tuhan yang agung?"

Dengan pandangan yang jijik dan penuh kebencian, Asiah berpaling dari pandangan suaminya. Mengingat apa yang telah dilakukan Fir'aun terhadap masyitah (juru sisir kerajaan), yang dihukum mati karena mempertahankan keimanannya kepada Tuhan, tiba-tiba muncul dalam dirinya kekuatan untuk melawan suaminya.

Maka dengan perasaan benci yang menggunung, Asiah dengan lantang berkata, "Engkau akan celaka menghadap siksaan Allah, wahai Firaun!"

Bagaikan disambar petir, Fir'aun terkesiap mendengar apa yang diucapkan istri yang dikasihinya itu. Dengan tatapan tajam ia menatap Asiah sambil menggeram, "Apakah engkau telah gila seperti dayang­-dayangmu itu?"

Kini Asiah merasa sudah benar-benar lepas dari Fir'aun serta merasa siap dengan siksaan yang bakal dihadapi. Maka tidak ada gunanya lagi untuk takut terhadap suaminya yang zhalim itu. la semakin berani menentang Firaun, "Aku tidak gila. Tetapi aku beriman kepada Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan semesta alam ini"

Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata kemarahaa Fir'aun saat itu, karena merasa dikhianati oleh orang yang paling dekat dan paling dicintainya.

Seketika itu Fir'aun menyuruh pengawalnya untuk mendirikan empat tiang. Lalu diikatnya kaki dan tangan Asiah pada keempat tiang tadi dengan tubuh terlentang. Kemudian Fir'aun memerintahkan kepala algojo untuk mencambuk Asiah dengan keras.

Di sela-sela penyiksaan yang kejam itu, Fir'aua masih membujuk Asiah supaya kembali kepadanya. Tetapi Asiah tidak menggubrisnya. la tetap pada keimanannya. Di mulutnya yang lemah, sesekali terdengar ucapan, 'Tiada Tuhan selainAllah:'

Semakin keras cambukan yang diterimanya, semakin kuat pula iman yang tertancap di dada wanita shalihah ini. Hingga akhimya, Fir'aun menindih tubuh Asiah dengan batu besar.

Namun sebelum itu, Asiah sempat mengucapkan doa yang amat terkenal dan diabadikaa dalam AI-Quran, "Ya Allah, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim." (QS At­Tahrim: 11).

Seketika itu pula Asiah melihat malaikat yang membentangkan sayapnya untuk melindunginya, dan diperlihatkan kepadanya sebuah rumah yang telah disediakan untuknya. Asiah pun tersenyum sesaat, sebelum embusan napasnya yang terakhir.

Karena itu, ketika siksaan Fir'aun mencapai puncaknya, yaitu menaruh batu yang sangat besar dan berat di atas tubuh Asiah, sesungguhnya wanita shalihah itu sudah tidak bernyawa. Sehingga ia tidak merasakan lagi puncak penyiksaan itu.

Edisi 133, 11 April 2008 / 05 Rabi'uts Tsani 1429 H

Wednesday, May 7, 2008

Akhlak Seorang Muslim

Edisi Jum’at : 2 Mei 2008

MAJELIS TAKLIM

W A D D A ' W A H

LIL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS

AKHLAK SEORANG MUSLIM TERHADAP ALLAH SWT.

Setiap muslim meyakini, bahwa Allah adalah sumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya, pencipta jagad raya dengan segala isinya , Allah adalah pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga manakala hal ini mengakar dalam diri setiap muslim, maka akan terimplementasikan dalam realita bahwa Allah-lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak.
Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allah ini merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah, maka ini merupakan pintu gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain. Diantara akhlak terhadap Allah SWT adalah :

1. Taat terhadap perintah-perintah-Nya
Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada Allah SWT, adalah dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya. Sebab bagaimana mungkin ia tidak mentaati-Nya, padahal Allah lah yang telah memberikan segala-galanya pada dirinya. Allah berfirman (QS.4:65): “Maka demi Rab-mu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
Karena taat kepada Allah merupakan konsekwensi keimanan seorang muslim kepada Allah SWT. Tanpa adanya ketaatan, maka ini merupakan salah satu indikasi tidak adanya keimanan. Dalam sebuah hadits, Rosulullah SAW juga menguatkan makna ayat di atas dengan bersabda (yang artinya): “Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga hawa nafsunya (keinginannya) mengikuti apa yang telah datang dariku (Al-Qur’an dan Sunnah).” (HR.Abi Ashim al-syaiban)

2. Memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diembankan padanya.
Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT, adalah memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya. Karena pada hakekatnya, kehidupan inipun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh karenya, seorang mukmin senantiasa meyakini, apapun yang Allah berikan padanya, maka itu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda (yang artinya):
Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya),
“ Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang amir (presiden/imam/ketua) atas manusia, merupakan pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita juga merupakan pemimpin atas rumah keluarganya dan juga anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Muslim)

3. Ridha terhadap ketentuan Allah SWT.
Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT, adalah ridha terhadap segala ketentuan yang telah Allah berikan pada dirinya. Seperti ketika ia dilahirkan baik oleh keluarga yang berada maupun oleh keluarga yang tidak mampu, bentuk fisik yang Allah berikan padanya, atau hal-hal lainnya.
Karena pada hakekatnya, sikap seorang muslim senantiasa yakin (baca; tsaqih) terhadap apapun yang Allah berikan pada dirinya. Baik yang berupa kebaikan, atau berupa keburukan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):
“sungguh mempesona perkara orang beriman. Karena segala urusannya adalah dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.”(HR. Bukhari).
Apalagi terkadang sebagai seorang manusia, pengetahuan atau pandangan kita terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap baik justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah memiliki kebaikan bagi diri kita.

4. Senantiasa bertaubat kepada-Nya.
Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari sifat lalai dan lupa. Karena hal ini memang merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah, etika kita kepada Allah, manakala sedang terjerumus dalam ‘kelupaan’ sehingga berbuat kemaksiatan kepada-Nya adalah dengan segera bertaubat kepada Allah SWT. Dalam al-Qur’an Allah berfirman(QS.3:135):
“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.”

5. Obsesinya adalah keridhaan Ilahi.
Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, akan memiliki obsesi dan orientasi dalam segala aktivitasnya, hanya kepada Allah SWT. Dia tidak beramal dan beraktivitas untuk mencari keridhaan atau pujian atau apapun dari manusia. Bahkan terkadang, untuk mencapai keridhaan Allah tersebut ‘terpaksa’ harus mendapatkan ‘ketidaksukaan’ dari para manusia lainnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah menggambarkan kepada kita:
“Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan ‘adanya’ kemurkaan manusia, maka Allah akan memberikan keridhaan manusia juga. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara kemurkaan Allah, maka Allah akan mewakilkan kebencian-Nya pada manusia.”(HR. Tirmidzi, Al-Qadha’i dan ibnu Asakir).
Dan hal seperti ini sekaligus merupakan bukti keimanan yang terdapat dalam dirinya. Karena orang yang tidak memiliki kesungguhan iman, orientasi yang dicarinya tentulah hanya keridhaan manusia. Ia tidak akan peduli, apakah Allah menyukai tindakannya atau tidak. Yang penting ia dpuji oleh orang lain.

6. Merealisasikan ibadah kepada-Nya.
Etika atau akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT adalah merealisasikan segala ibadah kepada Allah SWT. baik ibadah yang bersifat mahdhah, atauppun ibadah yang ghairu mahdhah. Karena pada hakekatnya, seluruh aktivitas sehari-hari adalah ibadah kepada Allah SWT. dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS.51:56):
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Oleh karenanya, segala aktivitas, gerak-gerik, kehidupan sosial dan lain sebagainya merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim terhadap Allah. Sehingga ibadah tidak hanya yang memiliki skup mahdhah saja, seperti shalat, puasa, haji dan sebagainya.
Perealisasian ibadah yang paling penting untuk dilakukan pada saat ini adalah beraktivitas dalam rangkaian tujuan untuk dapat menerapkan hukum Allah di muka bumi ini. Sehingga Islam menjadi pedoman hidup yang direalisasikan oleh masyarakat Islam pada khususnya dan juga oleh masyarakat dunia pada umumnya.

7. Banyak membaca Al-Qur’an.
Etika dan akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah adalah dengan memperbanyak membaca dan mentadaburi ayat-ayat, yang merupakan firman-firman-Nya. Seseorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia akan banyak dan sering menyebutnya.
Demikian juga dengan mukmin, yang mencintai Allah SWT, tentulah ia akan selalu menyebut-nyebut Asma-Nya dan juga senantiasa akan membaca firman-firman-Nya. Apalagi manakala kita mengetahui keutamaan membaca Al-Qur’an yang demikian besarnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan kepada kita:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu dapat memberikan syafaat di hari kiamat kepada para pembacanya.”(HR. Muslim)
Adapun bagi mereka-mereka yang belum bisa atau belum lancar dalam membacanya, maka hendaknya ia senantiasa mempelajarinya hingga dapat membacanya dengan baik.
Kalaupun seseorang harus terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an tersebut, maka Allah pun akan memberikan pahala dua kali lipat bagi dirinya. Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):
“Orang (mukmin) yang membaca Al-Qur’an dan ia lancar dalam membacanya, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi suci. Adapun orang mukmin yang membaca Al-Qur’an, sedang ia terbata-bata dalam membacanya, lagi berat (dalam mengucapkan huruf-hurufnya), ia akan mendapatkan pahala dua kali lipat.”(HR. Bukhori Muslim).
"Wallahu A'lamu Bishowab"